RSS

News Update:
Selamat datang di Kholilnews.com, semoga informasi yang ada disini dapat bermanfaat untuk Anda semua. Jika Anda mempunyai pertanyaan, kritik maupun saran untuk blog ini, silakan sampaikan melalui akun media sosial yang sudah tertera, terima kasih.

Pungutan Liar Masih Ada

Senin, 13 Oktober 2008

Sudah menjadi rahasia umum kalau pungutan liar atau yang sering disebut pungli, atau dalam bahasa lainnya adalah “pemerasan secara terang-terangan” hingga saat ini masih berlangsung. Pemandangan seperti ini sangat mudah sekali untuk dijumpai di kalangan instansi pemerintah. Kejadian yang berlangsung entah sejak kapan ini akan terus berlangsung turun temurun jika para pejabat yang terkait tidak mempunyai niat baik untuk merubah kelakuannya. Kondisi seperti inilah yang membuat Indonesia kalah dengan bangsa lain dalam hal apapun.

Kalau dilihat secara geografis, Indonesia terletak di kawasan khatulistiwa. Terdiri dari ribuan pulau dan mempunyai wilayah yang luas. Namun apa yang terjadi, rakyatnya masih banyak yang mengalami kemiskinan. Miskin harta masih bisa dimaklumi, dikarenakan masih banyaknya para pejabat yang dengan sengaja menyelewengkan keuangan negara untuk konsumsi pribadi. Yang lebih parah miskin hati hingga tidak melihat kondisi dibawah, bahwa masih banyak rakyat yang membutuhkan uluran tangan.

7 Oktober 2008 saya baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan. Ketika mengurus SKCK, pemerasan secara terang-terangan ini sudah dimulai ketika kaki saya menginjakkan kaki di kantor kecamatan. Saat akan mengambil surat pengantar yang sudah ditanda tangani camat, petugas yang mengurusi hal tersebut sudah melakukan penodongan secara terang-terangan dengan mematok harga sebesar dua puluh ribu rupiah. Untuk apa uang sebesar itu? Coba bayangkan, jika yang mengurus SKCK sebanyak 100 orang, dikalikan dua puluh ribu rupiah sudah berapa banyak uang yang masuk kantong pribadi?

Ketika saya mencoba untuk menanyakan kwitansi pembayaran, petugas tersebut ternyata bingung menjawab. Kalau sampai kwitansi tersebut keluar, akan saya gunakan untuk bukti ke media massa bahwa pemerasan terhadap rakyat kecil ini memang benar-benar terjadi. Petugas itupun tidak berani mengeluarkan kwitansi yang saya minta. Proses negosiasi yang sangat alot pun terjadi. Dan apa yang terjadi, akhirnya aku terkena pungli juga sebesar sepuluh ribu rupiah. Namun masih bisa bersyukur, punglinya berkurang setengah harga setelah melakukan debat dengan sang petugas itu.

Hal ini kembali terjadi di kantor polsek. Namun aku yang tidak mau mengeluarkan uang untuk konsumsi para pejabat itu, akhirnya melakukan pembicaraan yang serius. Sama seperti yang saya lakukan di kecamatan, petugasnya aku mintai kwitansi pembayaran. Sama, mereka tidak berani mengeluarkan selembar kertas sebagai kwitansi pembayaran. Dan akhirnya aku lolos dari pemerasan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah.

Namun kejadian seperti ini tidak berlangsung saat di Polres. Pungli pun kembali merajalela. Para pemohon SKCK sudak disodori tarif yang lumayan besar semenjak melakukan sidik jari. Sekali melakukan sidik jari sudah dipatok tarif sebesar lima ribu rupiah. Saat pengambilan SKCK yang sudah jadi dipatok tarif sebesar sepuluh ribu rupiah. Saat legalisir pun juga masih ada tarif lagi. Namun ketika mereka (petugas, red) ditanya kwitansi pembayaran, lagi-lagi jawabannya tidak mengeluarkan kwitansi. Kemana uang yang kita bayarkan kepada mereka? Kembali saya memberanikan diri untuk menanyakan kwitansi saat mengambil SKCK yang sudah jadi, dan akhirnya aku lolos dari pungli tersebut walaupun kena lima ribu rupiah saat sidik jari.

Kalau kita lihat semboyan POLRI yang menjadi pengayom masyarakat, masih relevankah dengan kondisi yang terjadi sekarang ini? Proses pengurusan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) yang intinya menerangkan bahwa pemohon SKCK benar-benar orang baik tidak tersangkut hukum ternyata sudah diawali hal yang tidak baik oleh sang petugasnya sendiri. Kapan negeri ini akan maju? Tidak ingatkah mereka dengan perjuangan para pahlawan bangsa yang telah berjasa hingga negeri ini bisa merdeka? Kalau mereka bisa berfikir hingga ke alam lanjut (akhirat), masih beranikah dengan tindakan yang mereka lakukan seperti saat ini?

Tulisan ini dibuat hanya ingin menegaskan bahwa kondisi bangsa Indonesia saat ini memang sudah kacau balau. Buruknya sistem yang ada mengakibatkan tindakan kriminal tidak pandang bulu. Dimana-mana yang namanya pungutan liar akan sangat mudah kita jumpai. Dan anehnya, yang menjadi pimpinan instansi terkait pun mengetahuinya. Namun apa daya, mereka pun ikut menikmati uang haram yang mereka pungut bersama anak buahnya.

Sebentar lagi di Indonesia akan ada pesta demokrasi, pemilihan calon legislatif dilanjutkan pemilihan presiden secara langsung. Sudahkah Anda mempunyai figur pemimpin bangsa Indonesia masa depan yang dapat memperbaiki sistem yang ada sekarang ini? Harapan demi harapan supaya bangsa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain dalam hal yang positif selalu menjadi impianku. Salah satu cara yang dapat saya lakukan untuk saat ini adalah dengan cara mempublikasikan tulisan ini kepada khalayak umum dan menerangkan inilah Indonesiaku saat ini. Semoga generasi baru nanti bisa merubah Indonesia ke arah yang lebih baik dalam semua hal, amien.

Blora, 7 Oktober 2008
Jam 22:05 WIB

Kholilnews.com "Menjelajah Dunia Membuka Cakrawala" | RSS

Artikel Pungutan Liar Masih Ada ini diterbitkan oleh Kholilnews.com pada hari Senin, 13 Oktober 2008. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silakan bagikan dengan menggunakan beberapa plugin yang ada dibawah. Apabila Anda ingin berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com, setelah input email harap segera mengecek inbox/spam email Anda untuk konfirmasi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com

DMCA.com



0 komentar :

Posting Komentar

 

Kholilnews.com ● Copyright © 2007 - All Rights Reserved