RSS

News Update:
Selamat datang di Kholilnews.com, semoga informasi yang ada disini dapat bermanfaat untuk Anda semua. Jika Anda mempunyai pertanyaan, kritik maupun saran untuk blog ini, silakan sampaikan melalui akun media sosial yang sudah tertera, terima kasih.

Indahnya Wanita Dalam Al-Qur'an

Sabtu, 09 Oktober 2010

Keberadaan perempuan hingga kini menyisakan beraneka tatapan. Keterpurukan perempuan dalam belitan kekekaran laki-laki seolah telah “menyungsum” lewat “mata elang” budaya, tradisi dan tafsir keagamaan. Tapi, Al-Quran justru mengangkat derajat perempuan lewat tatapan alamiah, bukan jasmaniah.

Menakjubkan memang bila memperhatikan sosok makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Ada kesyahduan, pesona, kegairahan dan tak sadar juga melahirkan “baku hantam” untuk sekedar menafsirkan. Keberadaan perempuan disepanjang kesejarahan manusia, nyatanya telah menorehkan berbagai “perwujudan” yang kerap timpang. Perempuan seringkali ditahbiskan sebagai “makhluk kelas dua” setelah laki-laki. Perempuan dikerangkeng dalam bai maskulinitas, dikangkangi dan diperah semata demi kemaharajaan kaum laki-laki. Begitulah sengkarut tafsir terhadap perempuan, saling silang dalam peneguhan eksistensinya yang berujung penepian.

Al Quran sebagai kitab wahyu sesungguhnya sangat peduli terhadap kedudukan perempaun. Mau tahu? Ya, yang begitu menakjubkan dari Al Quran adalah tidak adanya penggambaran perempuan secara fisikal. Tidak ada satu ayatpun yang melukiskan “keindahan” perempuan secara jasmaniah. Perempuan cantik tidak menjadi tokoh dalam pewartaan Al Quran. Bila menggambarkan hubungan jasmaniah dalam kaitannya dengan praktis syariat antara perempaun dan laki-laki, Al Quran menggunakan kata-kata halus seperti “bersentuh dengan perempuan” (4:43), “bercampur dengan perempaun” (2:187) atau “datangilah ladang kamu sekehendak hatimu” (2:233).

Kata al-nisa disebut dalam Al Quran sebanyak 57 kali, lebih dua kali dari kata al-rijal. Penyebutan ini paling sering dalam hubungannya dengan ketentuan hukum-hukum pernikahan, hukum waris, hukum yang menyangkut hubungan suami istri, hak perempuan untuk memperoleh hasil kerjanya, hukum ibadah, etika berbusana, etika pergaulan diantara perempuan dan antara laki-laki dan perempuan.

Al Quran sering menambahkan kata ganti genetif pada al-nisa’, seperti nisa-akum, nisa-ana, nisa-ahum, nisa-ahunna. Ini untuk menegaskan perempuan sebagai anggota komunitas yang lebih luas. Perempaun, misalnya diikutsertakan dalam proses pembuktian kebenaran (mubahalah), dilibatkan dalam proses hukum ketika praduga pelanggaran moral dan sering tersabit ketika terjadi proses penindasan masyarakat.

Apabila ta’ ta’nits (untuk menunjukkan jenis perempuan) ditambahkan pada isim fa’il (kata benda pelaku), antara kata laki-laki ( al-dzakar) dan kata perempuan (al-untsa) disebutkan bersama-sama, ini sesungguhnya Al Quran hendak menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan perlakuan terhadap tindakan laki-laki dan perempuan.

Al Quran secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Kadangkala, Al Quran menunjukkan nama secara jelas, jika perempuan yang dilukiskannya adalah perempuan ideal. Untuk melukiskan perempuan yng “buruk”, Al Quran tidak pernah menyebut nama secara langsung.

Maryam disebut dengan gamblang beberapa kali. Sebuah surah bahkan memakai nama Maryam. Maryam adalah tipe perempuan yang saleh, ibu dari Nabi Isa (3:45). Maryam menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Akhirnya, ia memikul amanah untuk mengasuh dan membesarkan kekasih Tuhan, Isa putera Maryam (19:16-34). Maryam jelas dilukiskan sebagai wanita saleh yang sukses menjaga kesuciannya, dan bukan lantaran kecantikannya.

Al Quran kemudian menyebut tipe perempuan pejuang. Ia hidup dibawah suami yang melambangkan kezaliman. Ia memberontak kepadanya. Ia melawannya dan ia mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang bakal diterimanya. Semuanya ia lakukan, karena memilih rumah di surga yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia yang dapat dinikmatinya, bila ia mau bekerjasama dengan kezaliman. Al Quran tidak menyebut namanya. Hadist-hadist menyebutkannya sebagai Asiyah binti Mazahim.

Sebagai lawan dari “perempuan Fir’aun” adalah “perempuan Abu Lahab”. Ia bekerjasama dengan suaminya untuk menentang kebenaran, menyebarkan fitnah keji dan melakukan tindakan zalim. Ia dilukiskan oleh Al Quran sebagai pemikul kayu bakar untuk menyalakan api penindasan. Inilah tipe perempuan sebagai pendamping tiran.

Al Quran memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Seayun itu, Al Quran mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran. “Allah membuat contoh bagi orang kafir perempuan Nuh dan perempuan Luth. Keduanya berada dalam perlindungan dua hamba kami yang soleh. Mereka mengkhianati keduanya. Kedua suaminya tidak bermanfaat apapun baginya dihadapan Allah. Dikatakan kepada mereka, masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk ke situ” (66:10).

Terakhir, ada satu tipe lagi perempuan dalam Al Quran. Sebut saja, sebagai tipe penggoda. Tipe ini diceritakan Tuhan ketika berkisah tentang Yusuf (12:23-34). Dalam hubungan dengan merekalah, Al Quran menunjukkan kepandaian perempuan untuk melakukan makar atau tipuan.

Nah, kesimpulannya bahwa Al Quran secara jelas dan tegas menyampaikan berbagai tipe perempuan. Pastinya, bukan tertuju pada kecantikan, melainkan pada amaliah atau prilakunya. Secara eksistensial, perempuan ditandaskan oleh Al Quran memiliki independensi terhadap laki-laki. Perempuan diperintahkan menentang suaminya bilamana suaminya melakukan kezaliman. Sebaliknya, bila ia menentang suaminya yang memperjuangkan kebenaran, betapapun tinggi kedudukan suaminya dihadapan Allah, suaminya tidaklah dapat membantunya.

Al Quran tidak pernah memperlakukan perempuan secara diskriminatif. Al Quran memberikan identitas dan nilai-nilai ideal yang harus dianut oleh perempuan mukminat. Benar kata Roger Geraudy, intelektualit asal Prancis yang tadinya atheis dan penganut Marxisme, kemudian beralih memeluk Islam. “Tidak ada satupun dalam Al Quran yang dapat dijadikan sebagai pembenar praktik apartheid terhadap kaum perempuan, yang sekarang ini telah merajalela di berbagai negara Muslim. Diskriminasi ini muncul dari tradisi Timur Dekat tertentu dan bukan dari Islam”.

Kholilnews.com "Menjelajah Dunia Membuka Cakrawala" | RSS

Artikel Indahnya Wanita Dalam Al-Qur'an ini diterbitkan oleh Kholilnews.com pada hari Sabtu, 09 Oktober 2010. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silakan bagikan dengan menggunakan beberapa plugin yang ada dibawah. Apabila Anda ingin berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com, setelah input email harap segera mengecek inbox/spam email Anda untuk konfirmasi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com

DMCA.com



0 komentar :

Posting Komentar

 

Kholilnews.com ● Copyright © 2007 - All Rights Reserved