RSS

News Update:
Selamat datang di Kholilnews.com, semoga informasi yang ada disini dapat bermanfaat untuk Anda semua. Jika Anda mempunyai pertanyaan, kritik maupun saran untuk blog ini, silakan sampaikan melalui akun media sosial yang sudah tertera, terima kasih.

Kisah Seorang Kuli Bangunan

Jumat, 25 November 2011

Siang itu tepatnya hari Jum’at, 25 Nopember 2011 sekitar pukul 10:00 WITA ketika saya sedang berkeliling untuk mengecek bangunan yang sedang dikerjakan, melintaslah seorang kuli bangunan yang sudah tua renta. Kalau dilihat dari raut mukanya, mungkin umurnya kakek itu lebih tua sedikit dari kakekku, sekitar 60an tahun. Namun jangan anggap sepele, semangat kerjanya masih luar biasa. Mungkin saya masih kalah semangat dibanding kakek itu.

Kemudian saya tegur kakek itu karena tidak menggunakan sepatu safety. “Pak, sepatunya tolong dipakai ya", kata saya. Kemudian dijawab kakek itu katanya sedang mencari sebungkus nasinya yang hilang. Hati saya pun tersentuh, kemudian saya dekati kakek itu dan saya ajak ngobrol agak lama. Katanya nasinya dimasukkan ke dalam zak kemudian digantungkan di scafolding. Saat dia sedang membersihkan keramik yang dia kerjakan, dari dalam dia melihat zak tersebut sudah kempes, setelah dibuka ternyata nasinya hilang. Nggak tahu kemana, mungkin ada sesama kuli bangunan yang mengambilnya tapi tidak ada yang mau mengaku.

Kok ada yang tega ya mengambil nasinya kakek yang sudah tua itu. Saya merasa kasihan kepada kakek itu, wajahnya mengingatkan wajah kakekku yang ada dirumah. Ngobrol pun saya lanjutkan untuk menghibur kakek itu yang sedang kebingungan mencari nasinya yang hilang. Setelah saya tanya namanya, kakek itu bernama Sugiyono. Orang asli Malang yang sedang merantau ke Kalimantan Timur. Kakek setua itu katanya berangkat sendiri naik kapal dari Surabaya menuju Balikpapan. Saya pun bertanya dalam hati, kok keluarganya tega ya membiarkan dia pergi sendirian merantau untuk mencari sesuap nasi di pulau seberang? Katanya anak kakek itu berjumlah 6 orang, dan sudah mempunyai 4 orang cucu yang sudah berkeluarga.

Sudah ikut bekerja di proyek saya ini sekitar 25 hari. Setelah saya tanya berapa gaji per harinya, dia menjawab tidak tahu. Katanya tanggal 2 bulan depan baru gajian. Saya pun tambah kecewa dengan kontraktor yang mempekerjakan kakek ini. Disamping hasil pekerjaannya tidak memuaskan, sudah terlambar sekitar 2,5 bulan dari target, ditambah kabar dari kakek itu yang belum pernah mendapatkan gaji hasil keringatnya. Menurut informasi dari kuli bangunan yang terdahulu, katanya setiap 2 minggu gajian. Namun kakek ini yang sudah 25 hari sama sekali belum digaji. Astaghfirullah....

Inilah nasib seorang kuli bangunan. Hasil kerjanya begitu nyata dan bisa dinikmati untuk berlindung dari terik panas matahari maupun hujan, namun hasil yang dia dapatkan tidak seberapa dengan tenaga yang sudah dikeluarkan. Pembayaran gajinya yang tidak tepat waktu. Lihatlah para kontraktor, megahnya gedung hasil rancanganmu tidak akan bisa terwujud tanpa adanya kuli bangunan yang rela berpanas-panasan.

Setelah sholat Jumat, saya bawakan 2 bungkus nasi untuk kakek itu. Walaupun katanya sudah berbagi nasi dengan kuli yang lain, saya rasa tidak akan kenyang karena sebungkus untuk dua orang. Saya paksa untuk makan terlebih dahulu supaya tenaganya tambah kuat. Sebungkus untuk kakek itu, sebungkusnya lagi untuk mandornya.

Dalam kisah lain saat Nabi Muhammad SAW didaulat oleh penduduk muhajirin dan ansar sebagai pemimpin negara-kota Madinah, Nabi Muhammad SAW memperdulikan keberadaan kaum pekerja / buruh sebagai penyangga perekonomian. Keberpihakan terhadap kaum pekerja ini bisa diketahui dari sabdanya yang cukup familiar, u’thu al-ajiir ajrah qabla an yajiff ‘irquh, atau terjemahannya “bayarlah gaji buruh sebelum keringatnya kering”.

Menurut Dr Saad Ibrahim, MA (2008), hadits tentang buruh ini setidaknya mempunyai dua makna penting. Pertama, buruh mempunyai hak-hak sebagaimana yang dimiliki oleh pemilik modal, sebagai konsekuensi sama-sama sebagai manusia. Pemilik modal tidak boleh melakukan eksploitasi (menzalimi) buruh, dengan memberikan haknya sesegera mungkin sesuai dengan mekanisme yang telah menjadi kesepakatan bersama (‘an taradh).

Kedua, maksud “sebelum keringatnya kering” adalah jangan sampai pengusaha memberikan gaji yang membuat buruh tidak bisa berkeringat, yang dalam sudut pandang dunia kesehatan teridentifikasi sebagai orang tidak sehat. Dengan demikian, bayarlah gaji sesegera mungkin dan gaji minimum yang diberikan seharusnya mampu memenuhi kebutuhan hidup buruh, baik rohani, pangan, sandang, maupun papan, dan lain-lain yang dalam tradisi kekinian sering kali disebut kebutuhan hidup layak.

Bontang, Kalimantan Timur, 25 Nopember 2011

Kholilnews.com "Menjelajah Dunia Membuka Cakrawala" | RSS

Artikel Kisah Seorang Kuli Bangunan ini diterbitkan oleh Kholilnews.com pada hari Jumat, 25 November 2011. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silakan bagikan dengan menggunakan beberapa plugin yang ada dibawah. Apabila Anda ingin berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com, setelah input email harap segera mengecek inbox/spam email Anda untuk konfirmasi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com

DMCA.com



3 komentar :

Rasimun Way mengatakan...

Sungguh terlalu ..Salam dari Kebumen

free template blog place mengatakan...

Free Template BloggerClick here

Kirman mengatakan...

Prihatin benar bacanya, masih ada juga kontraktor kayak gitu ya....

Posting Komentar

 

Kholilnews.com ● Copyright © 2007 - All Rights Reserved