RSS

News Update:
Selamat datang di Kholilnews.com, semoga informasi yang ada disini dapat bermanfaat untuk Anda semua. Jika Anda mempunyai pertanyaan, kritik maupun saran untuk blog ini, silakan sampaikan melalui akun media sosial yang sudah tertera, terima kasih.

Perbedaan Bahasa Politik dan Bahasa Matematika

Sabtu, 12 Mei 2012

Menjelang pemilu 2014, beberapa partai besar sudah mulai menggalang dukungan kepada para calon pemilih. Entah itu dengan cara turun ke bawah dengan bakti sosial, bagi-bagi sembako, ataupun menampilkan sosok partainya yang pro rakyat dengan cara memasang iklan di media massa, baik itu media cetak maupun elektronik. Kalau masyarakat tidak pandai memilah dan memilih, maka akan mengalami kecewa lagi selama lima tahun ke depannya.

Sebuah partai politik pemenang pemilu 2009 yang dulu memasang iklan di televisi menggunakan tagline “Katakan Tidak Pada Korupsi” pada akhirnya tersangkut korupsi juga. Hal ini dibuktikan dengan ditetapkannya dua tersangka yang berasal dari partai tersebut. Salah satu tersangkanya dulu juga sempat menjadi bintang iklannya. Dan saat ini kasusnya masih terus berlanjut. Apakah kasusnya juga akan menyeret petinggi partai tersebut? Mari kita tunggu saja perkembangannya.

Yang terbaru, saat ini kita disuguhi iklan partai politik di televisi yang mengusung slogan “Gerakan Perubahan”. Tanpa saya sebut partainya, Anda pasti tahu partai apa yang saya maksud. Slogan inilah yang beberapa waktu yang lalu disinggung oleh dosen saya yang mengajar mata kuliah kalkulus. Kata “perubahan” kalau di mata kuliah kalkulus dikenal dengan istilah “turunan” ini menjadi senjata yang ajaib jika benar-benar diterapkan.

Ini masih kata dosen saya, kalau niatnya memang ingin membuat Indonesia lebih baik, kenapa tidak menggunakan slogan “Gerakan Perbaikan”? Slogan “Gerakan Perubahan” inilah yang akan tetap aman dalam situasi dan kondisi apapun jika partai tersebut menjadi pemenang pemilu 2014. Entah itu kondisi negara kita akan berubah menjadi lebih baik atau berubah menjadi lebih buruk dari sekarang, yang penting kan ada perubahan.

Beda dengan partai yang mengusung slogan “Katakan Tidak Pada Korupsi” tapi pada akhirnya anggotanya menjadi pelaku korupsi, ini akan membuat kepercayaan publik terhadap partai tersebut berkurang.

Saya sengaja menampilkan sedikit catatan yang saya peroleh saat mengikuti kuliah kalkulus ini supaya masyarakat kita sedikit lebih kritis terhadap partai politik. Jadi tidak hanya menelan mentah-mentah slogan yang ditampilkan kemudian tertarik untuk memilihnya. Intinya kendaraan apa yang akan kita pakai untuk memenangi pemilihan umum 2014 mendatang, yang penting tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya sehingga tidak ada lagi diskriminasi benar-benar terealisasi.

Inilah intinya perbedaan bahasa antara bahasa politik dengan bahasa matematika. Kalau dalam bahasa politik, jika slogan dikemas dengan bagus akan bisa mempengaruhi jumlah calon pemilih. Sedangkan didalam bahasa matematika, hal ini bisa menjadi kendala tersendiri untuk bisa mempengaruhi masyarakat. Turunan atau perubahan, jika dihitung dengan rumus akan diketahui bilangan tertentu sehingga jelas diketahui asal usulnya. Jadi bahasa politik dan bahasa matematika itu memiliki maksud yang berbeda meskipun memiliki arti yang sama.

Kholilnews.com "Menjelajah Dunia Membuka Cakrawala" | RSS

Artikel Perbedaan Bahasa Politik dan Bahasa Matematika ini diterbitkan oleh Kholilnews.com pada hari Sabtu, 12 Mei 2012. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silakan bagikan dengan menggunakan beberapa plugin yang ada dibawah. Apabila Anda ingin berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com, setelah input email harap segera mengecek inbox/spam email Anda untuk konfirmasi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com

DMCA.com



3 komentar :

COF mengatakan...

Segala yang menyangkut matematika itu adalah pasti sangat berbeda dengan politik.

Mata Dunia mengatakan...

Salam kenal Mas kholil..... nie alumni dimensi yaa...?? :)

Kholilnews.com mengatakan...

@COF: kalau matematika memang ada yang pasti ada juga yang gak pasti, coba dihitung 10/9 = 1,11111111
tapi 1,11111111 x 9 hasilnya gak ketemu 10 kan? hehehe

@Mata Dunia: salam kenal juga, saya bukan alumni dimensi, cuma pembaca buletin & majalahnya aja, hehehe

Posting Komentar

 

Kholilnews.com ● Copyright © 2007 - All Rights Reserved