RSS

News Update:
Selamat datang di Kholilnews.com, semoga informasi yang ada disini dapat bermanfaat untuk Anda semua. Jika Anda mempunyai pertanyaan, kritik maupun saran untuk blog ini, silakan sampaikan melalui akun media sosial yang sudah tertera, terima kasih.

Rintangan demi Rintangan Menuju Kampung Halaman

Sabtu, 20 Desember 2014

Awal bulan ini akhirnya saya bisa cuti dan kembali merasakan suasana pedesaan di kampung halaman. Sesuatu yang sudah saya nantikan sejak awal Nopember kemarin sebenarnya, berhubung masih banyak yang harus dikerjakan akhirnya molor. Untuk bisa mendapatkan cuti saja harus melewati berbagai macam rintangan dan hambatan.

Berawal dari tanggal 2 Desember kemarin ketika sedang perjalanan dari Kutai Barat ke Balikpapan. Sekedar informasi saja, disini tidak ada transportasi bus malam layaknya di Jawa yang dengan mudah kita jumpai. Kalau mau ke Balikpapan harus naik travel dan membutuhkan waktu sekitar 12 jam perjalanan darat. Ada sih yang lebih cepat, naik pesawat cuma 30 menit saja. Tapi ya harga tiketnya yang mahal.

Ketika malam telah larut, mobil travel terus berjalan menembus gelapnya malam menyusuri jalan poros utama Kutai Barat-Balikpapan yang masih dikelilingi hutan di kanan kirinya. Sopir travelnya namanya Mas Aris, asli orang Blitar. Nampaknya malam itu dia agak kebingungan karena ditengah perjalanan terjadi kemacetan. Untung saja penumpangnya tidak mengejar jadwal pesawat yang penerbangan pagi dari Balikpapan, jadi masih agak tenang.

Kalau di Jakarta macet biasanya disebabkan karena banyaknya kendaraan yang memenuhi jalan raya yang tak sebanding dengan lebar jalannya, tapi disini lain lagi. Malam itu sedang melewati jalan yang sedang dibeton. Jadi kalau mau lewat harus bergantian atau dengan sistem buka tutup. Nah, ditengah-tengah jalan itulah ada truck yang mogok di tengah jalan. Mau gak mau harus melewati sisi jalan yang belum dibeton. Untung saja besi-besi betonnya belum dipasang jadi masih bisa dilewati.

Setelah bisa melewati kemacetan tersebut perjalanan kembali lancar meskipun hujan terus mengguyur. Namun selang satu jam perjalanan kembali dihadang kemacetan lagi yang cukup panjang dan lama. Penyebabnya ada pohon tumbang yang melintang di jalan raya, sehingga tidak bisa dilewati dari arah manapun. Harus menunggu sampai pohon tersebut dipotong dan disingkirkan. Sebenarnya lama banget nunggunya, namun saat itu mata saya sudah sangat ngantuk sekali jadi tidak terasa lama menunggunya karena tertidur.

Sampai di Balikpapan Rabu pagi tanggal 3 Desember. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan agaknya tidak membuat saya capek karena menurut tiket pesawat yang saya pegang, besok paginya, Kamis tanggal 4 Desember saya terbang ke Semarang. Pagi itu pun akhirnya saya gunakan untuk tidur.

Bangun dari tidur ternyata ada sms yang menyatakan penerbangan untuk besok pagi diundur menjadi sore hari. Rencana yang sudah saya susun rapi pun akhirnya kembali kacau. Beginilah kalau maskapainya otoriter, merubah jadwal dengan seenaknya tapi tidak memberikan kompensasi kepada penumpangnya, sementara itu jika penumpangnya yang ingin merubah jadwal penerbangan pasti dikenakan biaya tambahan.

Hari Kamis pun telah tiba. Sejak pagi saya sudah berkemas-kemas mengecek barang bawaan supaya tidak ada yang ketinggalan. Padahal jadwal penerbangannya jam 4 sore. Namanya juga sudah kangen rumah, sejak pagi semangatnya menggebu-gebu pengen segera pulang.

Jam 2 siang saya sudah pesan taksi untuk ke bandara. Baru ditelepon sebentar taksi yang dipesan sudah muncul. Perjalanannya cuma sekitar 30 menit saja. Ternyata sesampainya di bandara loket maskapai untuk ceck in belum dibuka, terpaksa harus nunggu beberapa menit.

Disinilah saya menunggu sebelum loket dibuka

Selesai ceck in sebenarnya saya kebingungan mau ngapain di ruang tunggu lama banget, tapi kalau mau keluar juga tidak ada teman. Ya sudah akhirnya saya putuskan untuk tetap masuk, sekalian nonton pesawat di ruang tunggu. Selain itu juga bisa melihat suasana laut di Balikpapan karena bandaranya tepat berada di pinggir laut.

Dan akhirnya jadwal penerbangan yang saya tunggu-tunggu telah tiba. Meskipun suasana sore itu langit agak mendung namun pesawat tetap bisa terbang karena masih dalam kondisi yang aman. Doa saya panjatkan semoga dalam perjalanan ini diberikan keselamatan sampai tujuan.

Penerbangan Balikpapan – Semarang ditempuh dalam waktu  1 jam 40 menit. Sampai di Semarang jam 5 sore. Saya harus mengejar angkutan yang menuju Terminal Penggaron supaya tidak ketinggalan bus yang menuju Blora. Namun karena kondisi sudah sore, jalan utama di Semarang dibeberapa titik mengalami kemacetan yang cukup panjang. Selain itu angkutannya juga sambil mencari penumpang sehingga jalannya tidak begitu cepat.

Sampai di Terminal Penggaron jam 6 sore. Jadi kalau dihitung dari Bandata Ahmad Yani sampai Terminal Penggaron memakan waktu satu jam. Sebenarnya kalau pakai motor cuma 30 menitan. Tapi saya masih bersyukur karena bus terakhir yang menuju Blora masih ada. Saya langsung naik saja, selang beberapa menit bus pun akhirnya jalan.

Namun ada yang mengecewakan dalam perjalanan sore itu. Busnya jalannya kayak siput, lambaaaat banget, gimana mau bisa sampai rumah kalau jalannya begini? Tidak berapa lama kemudian akhirnya hujan turun dengan lebatnya. Kaca-kaca kemudian ditutup agar air hujan tidak masuk. Namun karena busnya sudah tua dan banyak yang bolong disana sini, air hujan tetap bisa masuk.

Ditengah perjalanan ketika kernetnya sedang menarik bayaran, saya kemudian menanyakan busnya ini sampai Blora apa cuma sampai Purwodadi? Kalau sampai Blora saya masih bisa tenang tapi kalau cuma sampai Purwodadi saya yang kerepotan. Dan sesuatu yang saya khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Busnya cuma sampai Purwodadi saja karena malam itu penumpangnya sudah sepi.

Galau campur emosi jadi satu. Hujan malam itu masih turun dengan deras. Saya turun di Terminal Purwodadi. Sudah tidak ada bus lagi yang mengarah ke Blora. Harus menunggu besok paginya baru bisa pulang kalau tetap mau naik bus. Akhirnya malam itu saya putuskan untuk berteduh di warung depan terminal. Makan lontong dulu supaya perut ada isinya, karena sejak pagi di Balikpapan tidak makan nasi. Disitulah saya bertemu dengan beberapa orang dan mengobrol. Ternyata bus dari Purwodadi ke Blora yang terakhir jam 7 malam, itu artinya saya terlambat satu jam.

Saya harus tetap pulang malam itu karena rasa rindu sudah tidak bisa dibendung lagi. Ada beberapa orang yang menawari carteran mobil tapi batal karena harganya tidak cocok. Saya kemudian masuk ke dalam terminal untuk mencari tukang ojek. Karena kondisi malam itu sedang hujan dan dingin, ada yang menolak mengojek. Tapi beruntung masih ada satu orang tukang ojek yang mau setelah lama nego harga. Malam itu saya kemudian berangkat pulang naik ojek dari terminal Purwodadi jam setengah sepuluh malam menembus rintik hujan yang masih mengguyur. Selang satu setengah jam kemudian tepatnya jam sebelas malam akhirnya bisa sampai rumah. Alhamdulillah, sampai tujuan dalam keadaan selamat.

Tulisan ini dibuat di Kutai Barat 2 minggu setelah cuti (20 Desember 2014). Mungkin tidak ada manfaatnya, ya cuma sekedar untuk corat coret blog karena sudah lama tidak saya update.

Kholilnews.com "Menjelajah Dunia Membuka Cakrawala" | RSS

Artikel Rintangan demi Rintangan Menuju Kampung Halaman ini diterbitkan oleh Kholilnews.com pada hari Sabtu, 20 Desember 2014. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silakan bagikan dengan menggunakan beberapa plugin yang ada dibawah. Apabila Anda ingin berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com, setelah input email harap segera mengecek inbox/spam email Anda untuk konfirmasi. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Daftarkan email Anda untuk berlangganan artikel gratis dari Kholilnews.com

DMCA.com



0 komentar :

Posting Komentar

 

Kholilnews.com ● Copyright © 2007 - All Rights Reserved